REVIEW FILM KELUARGA CEMARA, NOSTALGIA?

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

Mutiara tiada tara adalah keluarga

Lagu “Harta Berharga” kini kembali bergema di Indonesia. Lagu yang dinyanyikan oleh Bunga Citra Lestari (BCL) ini barangkali kini sudah tersiar hingga pelosok negeri. Mengapa lagu yang pernah dibawakan oleh Novia Kolopaking ini eksis kembali? Ah, pasti kamu sudah tahu jawabnya. YA, KELUARGA CEMARA ADA LAGI!

img-20190102-wa0027

Awal tahun 2019 ini, Industri Perfilman Indonesia kembali melahirkan film berkualitas. Apalagi kalau bukan film Keluarga Cemara. Kisah Keluarga Cemara mungkin tak asing lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia. Sebab, serial televisi Keluarga Cemara pernah diangkat dalam layar kaca Indonesia pada tahun 1996-2005.

Jadi, film Keluarga Cemara yang naik layar bioskop Indonesia sejak 3 Januari 2019 ini tidak lain merupakan gubahan dari serial televisi yang pernah jaya pada masanya.

Alur Cerita

Film Keluarga Cemara yang disutradarai oleh Yandy Laurens memang berakar dari serial televisi dengan judul yang sama. Akan tetapi, ada perbedaan diantara keduanya bila dilihat dari segi jalannya cerita. Kalau dilihat dari sisi kondisi ekonomi, serial televisi dan film ini berbeda sekali. Film Keluarga Cemara menceritakan Abah dan keluarganya yang mulanya kaya raya, sebelum akhirnya jatuh miskin karena bangkrut melanda. Alur cerita ini bertolak belakang dari serial televisi.

Setelah bangkrut, Abah sekeluarga pindah ke sebuah desa. Melanjutkan kehidupan di sana. Berbagai konflik menyertai mereka. Kalau ditulis semua di sini, namanya spoiler dong. Menurut saya, konflik paling ngena itu ketika Abah, Emak, Euis, dan Ara dalam satu ruang yang sama (di Kamar Euis dan Ara). Waktu itu, Abah marah dengan sikap Euis dan Ara yang dirasa sangat tidak sopan. Ya, Abah sebenarnya menyesali dengan segala masalah yang menimpa mereka.

Konflik batin meningkat ketika Abah menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi. Kata Abah, semua anggota keluarga (Emak, Euis, Ara) adalah tanggung jawab abah. Lalu mencapai klimaks ketika Euis berkata: “Lalu, Abah tanggung jawab siapa?”

Bagi saya, scene tersebut menjadi salah satu scene paling hebat dalam Film Keluarga Cemara ini. Nah, setelah mengalami serangkaian konflik, cerita berakhir dengan cukup bahagia. Abah dan keluarga tidak jadi pindah lagi ke Jakarta dan mereka diberi anggota keluarga baru yakni Agil. Ya, meskipun kebanyakan penonton menangis ketika menonton film ini. Jangan salah, film ini rasanya nano-nano. Senang, sedih, lucu, kecewa, semuanya ada.

Penokohan

Ada beberapa tokoh yang mendominasi dalam Film Keluarga Cemara ini.

  1. Abah

Tokoh Abah dalam Film Keluarga Cemara diperankan oleh Ringgo Agus Rahma, aktor lama dalam dunia perfilman Indonesia. Ringgo Agus Rahman berhasil memerankan tokoh Abah yang tegas dan pekerja keras. Ah, Ringgo benar-benar mampu menunjukkan pada khalayak figur ayah yang bertanggung jawab.

  1. Emak

Tokoh Emak dalam Film Keluarga Cemara diperankan oleh Nirina Zubir. Seorang aktris yang berhasil membintangi sejumlah film besar Indonesia. Dalam Film Keluarga Cemara, Nirina Zubir sangat apik dalam memerankan sosok Emak yang sabar dan penyayang.

  1. Euis

Euis adalah anak pertama Abah dan Emak. Dalam film ini, sosok Euis diperankan oleh Zara JKT 48, pemain baru dalam dunia perfilman Indonesia. Meski masih baru, akting Zara sangat bisa diapresiasi. Zara mampu memerankan tokoh Euis, ABG yang tegar meski ditimpa banyak penghadang.

  1. Ara

Ara adalah anak kedua dari Abah dan Emak. Tokoh Ara diperankan oleh Widuri Puri Sasono, putri dari Widi Mulia yang juga mengambil peran dalam Film Keluarga Cemara. Meskipun usianya masih sangat belia, akting Widuri sangat luar biasa. Widuri berhasil mencitrakan sosok Ara yang polos dengan terlihat natural.

  1. Ceu Salma

Salah satu tokoh non keluarga yang dominan dalam Film Keluarga Cemara adalah Ceu Salma. Ceu Salma diperankan oleh Asri Welas, aktris yang dalam film lain pernah menyanyikan potongan lagu harta berharga. Ceu Salma adalah seorang “loan woman” yang sangat lucu. Kehadirannya ditengah-tengah Abah dan Keluarga menambah kesan lucu film ini. Ah, Asri Welas saya rasa tidak kesulitan memerankan tokoh Ceu Salma ini.

Setting Tempat

Mulanya, kisah Keluarga Cemara berlatar tempat di Jakarta. Abah, Emak, Euis, dan Ara digambarkan sebagai orang Ibu Kota yang kemudian pindah ke kampung setelah Abah bangkrut. Setelah pindah dari Jakarta, Abah sekeluarga tinggal di salah satu pedesaan yang ada di Jawa Barat. Logat Sunda menjadi penanda latar tempat yang ada. Namun, saya tidak tahu persis dimana, tetapi kemungkinan besar ada di suatu dataran tinggi. Mungkin masih masuk dalam wilayah Bogor karena salah satu scene bersetting tempat di Bogor Kota.

Setting Waktu

Film Keluarga Cemara memilih setting waktu zaman now. Ya, bisa jadi antara tahun 2017 dan tahun 2018 apabila dilihat dari fenomena yang diputar dalam layar. Misalnya, ojek online. Maraknya Ojek online merupakan salah satu fenomena zaman sekarang, kan? Nah, untuk rentang waktunya mungkin tidak lama. Beberapa bulan saja. Dimulai dari indisen bangkrutnya Abah hingga Emak melahirkan Agil, anak ketiga Abah dan Emak. Ya, mungkin Film Keluarga Cemara bisa dibuat edisi keduanya yang menyertakan sosok Agil di dalam ceritanya.

Kesan

Film Keluarga Cemara adalah film yang sarat akan makna. Ketika menonton film ini rasanya memang benar-benar ingin #KembaliKeKeluarga. Film ini sangat pas ditonton bagi generasi 90-an, ya hitung-hitung sekalian nostalgia. Untuk generasi millenial? Sangat dibolehkan. Akan banyak pesan-pesan kehidupan yang disampaikan.

Ah, menonton film ini benar-benar membuat perasaan saya terombang-ambingkan. Hayo kamu udah nonton belum? Wajib nonton. Jangan lupa, sedia tisue sebelum hujan ya!

img-20190102-wa0028

Advertisements

Taman Tino Sidin: Merawat Ingatan Sang Juru Gambar Indonesia

Tino Sidin, sosok yang tak lagi asing bagi sebagian rakyat Indonesia. Terkhusus bagi mereka yang usianya tak lagi muda. Nama Tino Sidin sudah tersiar sampai ke ujung negeri sebagai salah satu maestro lukis Indonesia.

Sosok Tino Sidin
Tino Sidin, Maestro Lukis Indonesia. (Koleksi Taman Tino Sidin)

Siapa diantara kawan pembaca yang apabila diminta melukis pemandangan akan langsung melukis dua buah gunung berdekatan dengan matahari diantara keduanya, ditambah dengan jalan yang diapit persawahan? Konon katanya, lukisan semacam ini merupakan warisan Tino Sidin yang sudah tersebar luas di masyarakat Indonesia.

Tino Sidin lahir di Tebingtinggi, Sumatera Utara, 25 November 93 tahun silam. Semasa hidupnya, Tino Sidin mengabdikan sebagian waktunya untuk berbagi ilmu menggambar pada ribuan bahkan jutaan anak Indonesia. Tahun 80-an, Tino Sidin muncul menghiasi layar kaca Indonesia dalam program Gemar Menggambar.

Tahun 80-an menjadi era emas Tino Sidin. Tino Sidin mendapat panggung yang tepat untuk menularkan ilmunya pada anak-anak Indonesia. Meskipun demikian, Tino Sidin tidak pernah bermimpi menjadikan seluruh anak Indonesia sebagai pelukis. Anak-anak Indonesia merdeka atas apa yang mereka cita-citakan. Hanya saja, Tino Sidin berharap anak-anak Indonesia bisa gemar melukis.

Kini, raga Tino Sidin sudah kembali ke pangkuan Semesta. Tino Sidin wafat ketika usianya menginjak 70 tahun, pada 29 Desember 1995. Tino Sidin meninggalkan seberkas karya yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dapat berupa karya lukisnya, atau arsip video acara Gemar Menggambar yang disiarkan Stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Tino Sidin pernah mencapai titik tertinggi popularitas pada masanya. Lalu bagaimana dengan dewasa ini? Apakah millennial mengenalnya? Sudah sejauh mana kita sebagai generasi millennial mengenal Tino Sidin dan kiprahnya dalam dunia seni lukis Indonesia.

Dengan berselancar di dunia maya, barangkali kita akan cepat menemukan informasi tentang Tino Sidin. Namun, pencarian tentang sosok Tino Sidin akan lebih menyenangkan dengan datang langsung ke Taman Tino Sidin. Sebuah museum, galeri, dan ruang seni yang menempati kediaman Tino Sidin sendiri.

Kalau Taman Ismail Marzuki ada di Jakarta, lain halnya dengan Taman Tino Sidin. Taman Tino Sidin berada di Jogja, lebih tepatnya di Jalan Tino Sidin 297 Kadipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta.

Patung Tino Sidin
Patung Tino Sidin ini karya Yusman yang berada persis di depan Taman Tino Sidin.

Mencari keberadaan Taman Tino Sidin tak sesulit mencari jarum dalam jerami. Cukup tandai Patung Tino Sidin yang ditempatkan persis di depan Taman Tino Sidin. Patung yang terpahat rapi dan mirip sekali dengan Tino Sidin ini merupakan karya seorang tokoh hebat dari dunia seni patung Indonesia yakni Yusman.

Taman Tino Sidin merupakan ruang memorabilia Tino Sidin. Artinya, taman ini berusaha merekam dan menyajikan segala hal penting Tino Sidin. Untuk kemudian dikenang dan diambil pelajaran oleh generasi selanjutnya, termasuk golongan millenial.

Taman Tino Sidin menyimpan berbagai macam barang peninggalan Tino Sidin. Koleksi yang ada dapat berupa foto-foto Tino Sidin bersama keluarga, berbagai sertifikat atau penghargaan yang diraihnya, kumpulan surat yang pernah ditulisnya, piranti lukis yang dahulu dipakainya, dan topi yang dipakai Tino Sidin sehari-hari.

Tino Sidin merupakan seorang Juru Gambar, maka tak heran apabila koleksi di taman ini kebanyakan berupa lukisan buah dari tangan Tino Sidin sendiri. Total lukisan yang ada mencapai ratusan buah. Namun, menurut salah seorang edukator disana, tidak semua lukisan karya Tino Sidin dipamerkan bersamaan. Masing-masing lukisan memiliki jadwal pajangnya masing-masing.

IMG-20181023-WA0026
Pengunjung yang sedang melihat koleksi Taman Tino Sidin

Lukisan Tino Sidin memiliki gayanya sendiri. Menurut Mikke Susanto, Kurator Taman Tino Sidin, lukisan Tino Sidin cenderung variatif. Berbagai tema digarapnya. Namun, lukisannya lebih banyak menceritakan tentang kehidupan sehari-hari di kampung. Terfokus pada emosi, perasaan, dan suasana yang benar-benar dilihat dan diamati. Bukan menitikberatkan pada apa yang seharusnya terjadi.

Taman Tino Sidin menawarkan iklim bahagia. Siapa saja yang berkunjung kemari dibawanya bersenang-senang. Menapaki riwayat hidup sang maestro lukis yang akrab dengan ucapan “ya bagus” ini. Dengan datang langsung ke tempat ini, pengetahuan akan siapa sosok Tino Sidin kita kantongi.

Tino Sidin memang sudah lama tiada. Namun, tiap jengkal karya yang ada di Taman Tino Sidin terkandung nyawanya. Sehingga pengunjung dapat merasakan seolah-olah Tino Sidin hidup kembali, membersamai segala aktifitas yang terjadi di taman ini.

Rasa seolah-olah Tino Sidin ada mencapai puncaknya di akhir perjalanan kunjungan. Pengunjung dibekali sepotong kertas dan sebilah spidol warna. Diajaknya pengunjung menonton dokumentasi acara gemar menggambar. Tino Sidin terpampang jelas disana. Pengunjung diberi sedikit waktu untuk berguru padanya. Meniru lukisan sederhana yang dibuatnya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Berkunjung ke Taman Tino Sidin merupakan sebuah upaya mengenal sejarah bangsa. Pada masanya, pernah hidup seniman lukis yang terekam dalam ingatan anak-anak bangsa. Dengan datang ke Taman Tino Sidin, kita turut memanjangkan riwayat tentangnya. Riwayat Tino Sidin, Juru Gambar kebanggaan Indonesia.

— Tulisan lama, ditulis 25 Oktober 2018, di dalam gerbong kereta Kahuripan.


Lokasi Taman Tino Sidin: Jalan Tino Sidin 297 Kadipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul.

Jadwal Buka: Senin-Sabtu, 09.00-15.00 WIB

HTM: Rp. 5000,- (Oktober 2018)

Menengok Sisa-Sisa Keemasan Majapahit di Trowulan

Pagi masih terlalu dini waktu itu. Saat saya bertolak dari Bumi Mataram menuju Bumi Majapahit. Dari Yogyakarta menuju Trowulan, sebuah daerah di Jawa bagian Timur yang dahulu menjadi Ibu Kota Kerajaan Majapahit. Jam menunjukkan pukul satu, saat mesin kendaraan mulai berpacu dan siap melaju.

Matahari baru terlihat samar-samar ketika saya usai menunaikan kebutuhan di Saradan, Jawa Timur. Seperti biasa, musik dangdut membersamai sekitar dua jam sisa perjalanan untuk sampai di Trowulan. Tentu terasa lama bagi saya yang antusias mewujudkan salah satu keinginan saya, menginjakkan kaki di Bumi Majapahit. Oh ya, pada kesempatan ini, saya berangkat bersama Keluarga Komunitas Malam Museum (IG:@malamuseum)

Kurang lebih pukul delapan saat saya tiba di Trowulan. Lebih tepatnya di sebuah tempat makan yang mottonya menawarkan suasana makan ala Majapahit.  By the way, saya jadi penasaran bagaimana perjamuan makan ala kerajaan dan masyarakat Majapahit. Mungkin ada yang mau berbagi pengetahuan?

Waktu sarapan dan bersih diri usai. Perjalanan dilanjutkan menuju situs Majapahit. Sedikit informasi, Majapahit merupakan salah satu kerajaan besar di Nusantara yang terkenal akan “Sumpah Palapa”. Kalau teman-teman berkeinginan untuk menambah pengetahuan seputar Kerajaan Majapahit, teman-teman bisa datang ke Pusat Informasi Majapahit (Museum Majapahit) yang akan dibahas lebih lanjut nanti.

Hari itu pengumuman kelulusan bagi anak-anak SMA. Di ujung jalan menuju Situs Majapahit, puluhan (mantan) siswa SMA mengekspresikan kebahagiaannya. Sebuah perayaan klasik, corat-coret seragam. Untung saja mereka tidak sampai bertingkah konyol, corat-coret situs sejarah yang ada misalnya. Sebab pada prinsipnya, kita wajib mengunjungi, melindungi, dan melestarikan segala macam peninggalan cagar budaya. Namun, sepertinya asik juga ya ketika moment kelulusan diisi dengan kegiatan kampanye cinta cagar budaya.

Kolam Segaran Majapahit
Foto oleh: Instagram.com/pim_bpcb_jatim

Sebelum memasuki gerbang Pusat Informasi Majapahit, saya melewati Kolam Segaran Majapahit di sisi kiri jalan. Segaran ini berukuran sekitar 375 x 125 meter dengan kedalaman lebih dari tiga meter. Sekilas pandang, segaran yang  tak ubahnya seperti telaga di tengah kota ini terlihat biasa saja. Namun sebenarnya, segaran ini menyimpan segudang cerita. Kolam Segaran Majapahit ini menjadi salah satu bukti bahwa manusia Indonesia (Nusantara) sudah sejak lama mengenal pariwisata meskipun dalam model yang berbeda. Kolam yang dibangun sejak masa jaya Majapahit ini menjadi tempat rekreasi tamu-tamu Kerajaan Majapahit, disamping tempat untuk menampung air ketika musim kemarau tiba.

Kolam Segaran Majapahit hingga kini masih menyimpan misteri. Konon katanya, di dasar kolam ini terdapat tumpukan emas, mengingat fungsinya sebagai tempat rekreasi dan perjamuan makan tamu-tamu kerajaan. Apa hubungannya dengan emas? Katanya, untuk menunjukkan kemakmuran kerajaan ini, peralatan makan seperti piring, sendok, dan sebagainya dibuat dari bahan emas dan sifatnya sekali pakai. Setelah dipakai, dibuang ke segaran sehingga lambat laun menumpuk di dasar. Begitu ceritanya, hebat bukan? Namun ada yang mengatakan pula bahwa selepas perjamuan selesai, peralatan makan akan dijaring dan diangkat kembali.

Sedikit informasi, selain Kolam Segaran Majapahit, masih terdapat tempat-tempat lain yang menjadi bukti eksistensi pariwisata pada masa kerajaan di Indonesia, seperti Taman Narmada di Lombok, Tasik Ardi di Banten Lama, dan Taman Sari Gunongan di Aceh. Semoga di lain waktu, ada kesempatan berkunjung pula ya.

Oke kembali ke Bumi Majapahit. Majapahit adalah kerajaan besar dengan cakupan wilayah kekuasan yang luas. Trowulan mungkin hanya sebagian kecil dari wilayah kekuasaannya. Namun, Trowulan menjadi istimewa karena pernah menjadi ibu kota dan masih ada berbagai peninggalan yang dapat dilihat oleh mata seperti Gapura Bajang Ratu, Candi Brahu, Candi Tikus, Gapura Wringin Lawang, Makam Troloyo dan sebagainya. Trowulan istimewa, bukan? Sampai jumpa di Dari Mataram Menuju Majapahit: Sebuah perjalanan 24 jam #2

Sendratari Ramayana: Cerita Cinta Rama Shinta yang Dibalut Megah

Candi Prambanan telah menjadi perhatian sejak lama. Apalagi setelah ditetapkannya candi ini menjadi salah satu Warisan Dunia kebanggaan Indonesia. Candi bernafas Hindu ini kini tumbuh menjadi destinasi wisata favorit Jogja.

Candi Prambanan terletak di Ujung Timur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kurang lebih 17 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta.

IMG-20180903-WA0006
Candi Prambanan

Candi Prambanan bernilai sejarah tinggi. Berdasar penafsiran Prasasti Siwagrha, para ahli kemudian menafsirkan tahun dibangunnya candi ini. Candi Prambanan diperkirakan dibangun pada Abad 9 Masehi. Sebab, prasasti ini berangka tahun 778 Saka atau tahun 856 masehi. (Baca juga: Candi Prambanan, Candi tercantik di dunia)

Salah satu keunikan bernilai tinggi yang dimiliki candi ini adalah ukiran yang terpahat dalam dinding-dinding candi. Relief yang terukir cantik ini menjadi daya tarik tersendiri. Secara garis besar, relief Candi Prambanan menggambarkan dua cerita yang berbeda.

Relief pertama, bercerita tentang epos Ramayana. Menceritakan perjuangan Rama mencari cinta sejatinya, Shinta. Sampai pada pertarungannya dengan Rahwana, Raja Alengka. Sementara itu, relief kedua mengangkat cerita Kresnayana. Rekam jejak kehidupan Kresna sejak belia hingga dewasa.

Diantara kedua cerita tadi, barangkali Ramayana lebih banyak diketahui. Ditambah lagi dengan adanya atraksi wisata yang mementaskan kisah ini. Sebut saja, Sendratari Ramayana. Pertunjukan yang diinisiasi oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

Sendratari (Seni Drama dan Tari) Ramayana merupakan seni pertunjukkan yang mengangkat cerita Ramayana. Pentas kolosal ini disuguhkan pada malam hari, di panggung terbuka Ramayana Ballet, berlatar belakang megahnya candi.

Ramayana Ballet
Panggung Ramayana Ballet, berlatar belakang Candi Prambanan.

Berikut ini sinopsis cerita yang dipentaskan dalam Sendratari:

Pada suatu hari, Raja Mantili mengadakan sebuah sayembara. Siapa saja yang menjadi jawara berhak menikahi Shinta, anak perempuan raja. Dalam sayembara ini, Rama, seorang Ksatria menjadi juara. Rama berhak atas Shinta.

Setelah Rama dan Shinta menikah, keduanya pergi ke Hutan Dandaka. Dibersamai Lesmana, adik tersayang Rama. Suatu hari di Hutan Dandaka, Shinta diculik Rahwana, seorang Rahwana yang jatuh hati pada Shinta. Dibawanya Shinta menuju Alengka.

Rama tak tinggal diam. Rama selalu berupaya merebut kembali Shinta. Salah satu usaha Rama adalah membangun jembatan penghubung menuju Alengka, dibantu Hanoman dan segerombolan kera. Sampai akhirnya, meletuslah perang antara Ayodya dengan Alengka.

Pertarungan besar ini diakhiri dengan tewasnya Rahwana oleh sebilah panah yang ditembakkan Rama. Rama menang dan kembali pada Shinta. Namun, terbesit keraguan dalam diri Rama tentang kesucian Shinta. Sehingga Shinta rela membakar dirinya sebagai pembuktian akan kesuciannya.

Akhir cerita, Shinta selamat dari jerat api yang membara. Dengan demikian, Shinta mampu membuktikan kesuciannya dan bersatu kembali dengan Rama serta menjalani hidup yang bahagia.

Sendratari Ramayana merupakan pentas yang ditata sedemikian rupa. Pentas kolosal ini dibalut dengan sangat megah. Setiap pentasnya hampir mencapai sempurna.

Gerak gemulai para penari mampu menuturkan kisah yang terjadi. Alunan musik gamelan pun turut membangkitkan emosi. Panggung dan lighting menawan, berpadu dengan indahnya candi.

Suara dari Jogja, Upaya Ciptakan Kemajuan Indonesia

DaEIEmxVwAABBtA

Pramoedya Ananta Toer pernah berkata: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” – Pramoedya Ananta Toer.

Menulis, menulis, dan menulis. Begitu dorongan yang diberikan kepada kami, peserta Flash Blogging Jogja hari ini (6 April 2018). Acara Flash Blogging Jogja merupakan program Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, bekerja sama dengan Dinas Komunikasi dan Informasi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Acara yang berlangsung setengah hari ini dibersamai oleh Agus Mulyadi dan Pak Andoko. Siapa mereka?

Agus Mulyadi atau biasa dipanggil Gusmul merupakan blogger terkenal Indonesia. Barangkali namanya tak lagi asing di telinga kita. Blogger satu ini menceritakan rekam jejak perjuangannya untuk menjadi blogger terkemuka.

Pembicara kedua adalah Pak Andoko yang merupakan wakil dari Sudut Istana. Sudut Istana adalah media penyampaian informasi tentang kebijakan pemerintah saat ini. Selain itu, Sudut Istana juga menghimpun kritik masyarakat dari berbagai penjuru negeri sehingga pemerintah bisa tahu apa saja masalah yang terjadi di Tanah Ibu Pertiwi.

Kiranya ada berbagai pelajaran yang bisa dipetik dari kegiatan #FlashBloggingJogja hari ini. Menulislah! Apakah menulis hanya khusus bagi para penulis? Tidak. Siapa pun kamu, dari mana pun kamu, kamu berhak menulis. Mungkin sebagian orang di luar sana bertanya-tanya, bagaimana sih cara menjadi blogger? Bagaimana sih cara menulis dengan baik? Hari ini pertanyaan itu terjawab tuntas. Mudah saja, komitmen. Menjadi seorang blogger tentu bukan perkara mudah, hanya dia yang tangguh yang mampu bertahan. Akan selalu ada batu dalam perjalanan, kurang lebih begitu. Komitmen menjadikan seorang blogger kuat. Kamu pun bisa melakukan hal itu. Segala tantangan yang kamu temui semestinya tidak mampu menggoyahkan dirimu. Kamu harus bisa membuktikan bahwa kamu bisa, kamu mampu.

Menjadi seorang blogger membutuhkan jam terbang tinggi. Menurut GusMul, untuk menjadi blogger yang baik perlu pengalaman. Selain itu, berbagai bacaaan juga perlu kamu lahap guna menambah khazanah pengetahuanmu. Meskipun demikian, kamu tidak perlu harus ndakik-ndakik dalam menentukan tema atau judul. Kamu bisa memulai dengan hal-hal sederhana di sekitarmu. Kalau Agus Mulyadi saja bisa, masa kamu engga?

Ada lagi pelajaran lain yang bisa dipetik dari serangkaian kegiatan #FlashBloggingJogja hari ini. Melalui penyampaian Pak Andoko, para blogger bisa tahu seberapa luas nan besar negeri yang terbentang dari Sabang sampai Merauke ini. Namun ada beberapa masalah yang terjadi akibat dari kondisi yang demikian ini. Salah satunya keadilan sosial yang belum merata. Apa hubungannya dengan blogging? Dengan blogging kamu bisa menemukan informasi terkait dengan apakah dalam masyarakat masih terdapat ketidakadilan sosial. Jawabannya bisa jadi iya, masih terdapat ketidakadilan sosial dalam masyarakat. Namun di sisi lain kita bisa mengambil informasi tentang berbagai program yang sudah diupayakan pemerintah untuk mengurangi ketidakadilan sosial dalam masyarakat yang sudah terlanjur tinggi seperti sekarang ini. Dari sini kita bisa tahu bukan bahwa dengan kata-kata secara tidak langsung kita bisa memajukan Indonesia. Bukan begitu?

Jadi, menulislah! Menulis untuk keabadian.

Kauman dalam Lorong Waktu

Pulang ke kotamu

Ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu

Tiap sudut menyapaku bersahabat

Penuh selaksa makna

……………………………

Halo Sedulur, yang rindu Jogja mana suaranya…

Begitu lah Jogja, daerah yang setiap sudutnya memiliki cerita. Kali ini, saya akan bercerita tentang Kampung Kauman. Kampung bersejarah yang letaknya persis di sebelah Barat Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta. Kampung ini menyimpan rekam jejak sejarah yang panjang. Sepanjang apa? Sepanjang jalan kenangan… Eh kembali ke Kauman.

Hunian berupa perkampungan menjadi salah satu bagian integral dalam struktur tata ruang kota Masyarakat Jawa Tradisional. Jelas kiranya bahwa adanya Kampung Kauman ini menjadi hal yang penting bagi Kasultanan Yogyakarta yang berdiri setelah adanya Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755 silam. Ya, adanya perkampungan ini melengkapi unsur tata ruang Ibu Kota Kerajaan berdampingan dengan Alun-Alun Kota Yogyakarta, Pasar Beringharjo, dan Masjid Gedhe Kauman. Bisa dipahami, kan?

Nah adanya Kampung Kauman Yogyakarta ini bertolak dari dibangunnya Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Masjid yang terletak di Barat Alun-Alun Yogyakarta dan yang ramai banget kalau pas lagi Sekatenan. Mungkin kamu bertanya-tanya, “kok bisa ya Masjid Kauman ini menjadi cikal bakal pendirian Kampung Kauman?”. Yuk kita tengok terlebih dahulu penamaan kampung ini. Kauman berasal dari kata Pakauman yang berarti tempat tinggal Para Kaum. Nah pada zaman dahulu, kampung ini digunakan untuk tempat tinggal  ahli agama yang mendedikasikan hidupnya untuk mengelola Masjid Gedhe Kauman.

Selain itu, Kampung Kauman seringkali dijuluki ‘Kampung Muhammadiyah’. Julukan ini melekat pada kampung kauman karena pendiri Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir dan dibesarkan di kampung ini. Kauman menjadi saksi bisu lahirnya Muhammadiyah dan dinamika pergerakan Muhammadiyah yang turut menunjukkan tajinya pada era kebangkitan nasional.

Apa yang identik dengan kampung kauman selain Muhammadiyah? Jawabannya adalah batik. Sebagai kampung batik, nama Kauman Yogyakarta memang tidak lebih dikenal daripada Kauman Surakarta. Namun jangan salah, Kauman Yogyakarta pun menjadi saksi perkembangan batik dari dulu hingga kini.

Batik sudah ada sejak lama di kampung kauman  Berkembangnya batik di kampung ini bermula dari waktu senggang yang dimiliki para perempuan di Kauman. Dengan keterampilan yang mereka miliki, mereka mulai bekerja sebagai seorang pembatik. Seiring berjalannya waktu, industri batik semakin tumbuh subur. Batik menjadi industri yang cukup menjanjikan sehingga banyak abdi dalem yang kemudian merangkap bekerja sebagai pembatik. Sampai saat ini, di Kampung Kauman Yogyakarta masih dapat dijumpai para pembuat dan penjual batik dengan beragam corak.

Seperti halnya Jogja, Kampung Kauman sungguh istimewa. Bagaimana tidak, kampung ini menjadi saksi perkembangan Yogyakarta dari masa ke masa. Banyak cerita yang dapat dikisahkan dari kampung sederhana ini. Mari berkunjung ke kampung ini dan buat ceritamu sendiri.